Asal Usul Kota Kudus

Senin, 07 Januari 2019

Biodata Diri Novinda Dwi Ardianti

Biodata Diri


Nama Lengkap.             : Novinda Dwi Ardianti
Nama Panggilan .          : Novi
Tempat, Tanggal Lahir : Kudus, 6 November 1998
Umur.                     : 20 Tahun
Alamat.                   : Mlatinorowito Kudus Jawa Tengah
Nama Ayah .          : Budi Arsani
Nama Ibu.              : Daryanti
Nama Kakak.         : Nova Trediyanto
Hobbi.                     : Membaca
Cita-cita.                  : Menjadi Pengusaha sukses
Makanan Favorit.  : Bakso, batagor dan Seblak
Lagu Favorit .         : Sunset di tanah anarki
Genre Musik Favorit : Pop Rock dan Reggae
Detail Pendidikan 
     SD       : SDN 2 Mlatinorowito Kudus Jawa Tengah
     SMP.   : SMP Muhammadiyah 1 Kudus Jawa Tengah
     SMK.  : SMK N 1 Kudus Jawa Tengah
     Univ  : Universitas Muria Kudus
Instagram : novi_lr
Facebook : Novinda Dwi Ardianti
Email.      : novindacaem70@gmail.com

Jumat, 26 Mei 2017

Asal Usul Kota Kudus

Hasil gambar untuk asal usul kota kudusAsal Usul Nama "Kudus" berasal dari bahasa Arab "Al-Qudsi" yang berarti Suci. Seperti halnya Kabupaten di Jawa Tengah, Demak dan Kendal juga berasal dari Bahasa Arab. Kabupaten Kudus awalnya berupa desa kecil bernama Desa Tajug di tepian Sungai Gelis. Masyarakatnya hidup dari bertani, pengrajin batu bata dan menangkap ikan. Sunan Kudus yang mempunyai bakat berdagang menjadikan Kudus sebagai kota pelabuhan sungai dan perdagangan di jalur Sungai Gelis sampai Sungai Wulan hingga Pelabuhan Jepara.
Pedagang dari Timur Tengah, seperti Tiongkok dan sejumlah pedagang membuat daerah itu mempunyai banyak pengrajin. Seperti halnya perdagangan kain, barang pecah belah dan hasil pertanian. Masyarakat Tajug terinspirasi akan filosofi yang melekat pada diri Sunan Kudus, Filosofi Sunan Kudus adalah "Gusjigang", Gus berarti bagus, Ji berarti mengaji dan gang berarti berdagang. Lewat filosofi itulah Sunan Kudus mengajarkan masyarakat Kudus untuk tekun mengaji  agar mempunyai kepribadian bagus dan mau berdagang untuk memenuhi kebutuhan. Diantara berdagang yang diwarisi turun temurun oleh warga Kudus sampai sekarang adalah membuat batik dan membuat Jenang.
Masjid Menara Kudus menjadi simbol berdirinya Islam dan sebagai Hari Jadi Kabupaten Kudus. Sebagaimana para Walisongo, Sunan Kudus memiliki cara untuk menyebarkan agama Islam tanpa menggunakan kekerasan, yakni bijaksana dan ketekunan dalam berdakwah. Dikarenakan masyarakat pada saat itu beragama Hindu dan Budha, Sunan Kudus menyelingi dakwahnya menggunakan tradisi dan kebudayaan mereka, namun tetap bersumber dari Islam. 
Percampuran budaya Hindu, Budha dan Islam sampai saat ini masih bisa di lihat adalah Masjid Menara Kudus. Masjid yang didirikan tahun 956 H (1549 M) ini dapat diketahui darri prasasti batu bata yang lebarnya 30 cm dan panjang 46 cm terletak di mihrab Masjid Menara Kudus bertuliskan bahasa Arab.